BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Leptospirosis adalah penyakit
infeksi akut yang dapat menyerang manusia maupun hewan yang disebabkan kuman
leptospira pathogen dan digolongkan sebagai zoonosis yaitu penyakit hewan yang
bisa menjangkiti manusia.
Gejala klinis leptospirosis mirip
dengan penyakit infeksi lainnya seperti influenza, meningitis, hepatitis, demam
dengue demam berdarah dan demam virus lainnya. Sehingga seringkali tidak
terdiagnosis .
Leptospira berbentuk spiral yang
menyerang hewan dan manusia dan dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1
bulan. Tetapi dalam air laut, selokan
dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati. Leptospira bisa terdapat
pada hewan piaraan maupun hewan liar. Leptospirosis dapat berjangkit pada
laki-laki maupun wanita semua umur tetapi kebanyakan mengenai laki-laki dewasa
muda (50% kasus umumnya berusia antara 10-39 tahun diantaranya 80% laki-laki).
Angka kematian akibat penyakit yang disebabkan bakteri lepstopira tergolong
cukup tinggi bahkan untuk penderita yang berusia lebih dari 50 tahun malah
kematiannya bisa mencapai 56% (Masniari poengan, peneliti dari Balai Besar
Penelitian Veteriner, Bogor 2007)
Di Amerika Serikat tercatat sebanyak 50-150 kasus leptospirosis setiap
tahun sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai.
Salah satu daerah di Indonesia merupakan daerah endemik Leptospirosis yaitu
di Guilan Provinsi di utara di Iran. Karena diagnosa
Leptospirosis berdasarkan gejala klinis sangat sulit karena kurangnya
karakteristik pathogonomic, dukungan laboratorium diperlukan. Angka kejadian penyakit leptospirosis di
Provinsi Guilan Iran Utara cukup tinggi terutama pada daerah Rasht. Pada daerah
tersebut terdapat 233 kasus Leptospirosis dari keseluruhan kasus yang berjumlah
769.
Kami sebagai calon tenaga kesehatan
yang nantinya akan bekerja di Rumah Sakit dan di Balai Kesehatan lain harus
tahu bagaimana cara mengatasi dan mengobati macam-macam penyakit khususnya
penyakit leptospirosis, oleh karena itu Kami membahas penyakit ini agar Kami
mengetahui secara lebih lanjut dan memperoleh informasi yang juga bermanfaat
bagi orang lain yang membaca makalah ini.
B. Rumusan
Masalah
Beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan makalah ini
adalah:
1.
Bagaimana
Sejarah Leptopirosis itu?
2.
Apa Definisi
leptospirosis?
3.
Bagaimana
Etiologi leptospirosis?
4.
Bagaimana Cara
penularan leptospirosis?
5.
Bagaimana
Manisfestasi klinik leptospirosis?
6.
Bagaimana Masa
Inkubasi leptospirosis?
7.
Apa Komplikasi lepthospirosis?
8.
Bagaimana
Pencegahan leptospirosis?
9.
Bagaimana
Pengobatan leptospirosis?
C. Tujuan
Penulisan
Sesuai dengan masalah yang dirumuskan diatas maksud dan tujuan inipun
dirumuskan guna memperoleh suatu deskripsi tentang:
1.
Apa itu penyakit leptospirosis dan bagaimana cara
mengatasi, mengobati dan mencegah tertularnya penyakit leptospirosis
2.
Berfungsi sebagai literatur-literatur bagi pelajar
yang ingin memperdalam wawasan tentang masalah kesehatan Khususnya tentang
penyakit leptospirosis
3.
Para pembaca dapat mengetahui lebih dalam
tentang penyakit leptospirosis
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.
Sejarah
Leptospirosis
Dikenal pertama kali sebagai penyakit occupational (penyakit yang diperoleh
akibat pekerjaan) pada beberapa pekerja pada tahun 1883. Pada tahun 1886 Weil
mengungkapkan manifestasi klinis yang terjadi pada 4 penderita yang mengalami penyakit
kuning yang berat, disertai demam, perdarahan dan gangguan ginjal. Sedangkan
Inada mengidentifikasikan penyakit ini di jepang pada tahun 1916. (Inada R, Ido
Y, et al: Etiology, mode of infection and specific therapy of Weil's disease. J
Exp Med 1916; 23: 377-402.)
Penyakit ini dapat menyerang semua usia, tetapi sebagian besar berusia
antara 10-39 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki usia
pertengahan, mungkin usia ini adalah faktor resiko tinggi tertular penyakit
occupational ini.
Angka kejadian penyakit tergantung musim. Di negara tropis sebagian besar
kasus terjadi saat musim hujan, di negara barat terjadi saat akhir musim panas
atau awal gugur karena tanah lembab dan bersifat alkalis.
Angka kejadian penyakit Leptospira sebenarnya sulit diketahui. Penemuan
kasus leptospirosis pada umumnya adalah underdiagnosed, unrreported dan
underreported sejak beberapa laporan menunjukkan gejala asimtomatis dan gejala
ringan, self limited, salah diagnosis dan nonfatal.
Di Amerika Serikat (AS) sendiri tercatat sebanyak 50 sampai 150 kasus
leptospirosis setiap tahun. Sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai.
Di Indonesia penyakit demam banjir sudah sering dilaporkan di daerah Jawa
Tengah seperti Klaten, Demak atau Boyolali.
Beberapa tahun terakhir di daerah banjir seperti Jakarta dan Tangerang juga dilaporkan terjadinya
penyakit ini. Bakteri leptospira juga banyak berkembangbiak di daerah pesisir
pasang surut seperti Riau, Jambi dan Kalimantan.
Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40%.
Infeksi ringan jarang terjadi fatal dan diperkirakan 90% termasuk dalam
kategori ini. Anak balita, orang lanjut usia dan penderita “immunocompromised”
mempunyai resiko tinggi terjadinya kematian.
Penderita berusia di atas 50 tahun, risiko kematian lebih besar, bisa
mencapai 56 %. Pada penderita yang sudah mengalami kerusakan
hati yang ditandai selaput mata berwarna kuning, risiko kematiannya lebih
tinggi lagi.
Paparan terhadap pekerja diperkirakan terjadi pada 30-50% kasus. Kelompok
yang berisiko utama adalah para pekerja pertanian, peternakan, penjual hewan,
bidang agrikultur, rumah jagal, tukang ledeng, buruh tambang batubara, militer,
tukang susu, dan tukang jahit. Risiko ini berlaku juga bagi yang mempunyai hobi
melakukan aktivitas di danau atau sungai, seperti berenang atau rafting.
Penelitian menunjukkan pada penjahit prevalensi antibodi leptospira lebih
tinggi dibandingkan kontrol. Diduga kelompok ini terkontaminasi terhadap hewan
tikus. Tukang susu dapat terkena karena terkena pada wajah saat memerah susu.
Penelitian seroprevalensi pada pekerja menunjukan antibodi positif pada rentang
8-29%.
B.
Definisi Leptospirosis
Leptospirosis adalah suatu zoonosis yang disebabkan suatu mikroorganisme yaitu
leptospira tanpa memandang bentuk serotipenya. Penyakit ini juga dikenal dengan
nama seperti mud fever, slim fever, swamp fever, autumnal fever, infectoius
jaundice, field fever, cane cutler fever.
Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang disebabkan oleh beberapa
bakteri dari golongan leptospira yang berbentuk spiral kecil disebut
spirochaeta. Bakteri ini dengan flagellanya dapat menembus kulit atau mukosa
manusia normal. Leptospira ini dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1
bulan. Sistem klasifikasi tradisional didasarkan atas patogenitas yang
membedakan antara spesies patogen yaitu Leptospira interrogans dan spesies
nonpatogen yang hidup bebas, yaitu Leptospira biflexa. Leptospira berbentuk
ulir yang rapat, tipis dengan panjang 5-15 mm. Leptospira dapat hidup
berminggu-minggu di dalam air, khususnya pada pH basa. (Brooks, 2005)
C.
Etiologi Leptospirosis
Leptospirosis disebabkan bakteri pathogen (dapat menyebabkan penyakit)
berbentuk spiral termasuk genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo
spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil, obligat, dan
berkembang pelan secara anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2 spesies yaitu
L interrogans yang merupakan bakteri patogen dan L biflexa adalah saprofitik.
Berdasarkan temuan DNA pada beberapa penelitian terakhir, 7 spesies patogen
yang tampak pada lebih 250 varian serologi (serovars) telah berhasil
diidentifikasi. Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia
diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia
lainnya. Hewan peliharaan yang paling berisiko mengidap bakteri ini adalah
kambing dan sapi.
Setiap hewan berisiko terjangkit bakteri leptospira yang berbeda-beda.
Hewan yang paling banyak mengandung bakteri ini (resevoir) adalah hewan
pengerat dan tikus. Hewan tersebut paling sering ditemukan di seluruh belahan
dunia.
Di Amerika yang paling utama adalah anjing, ternak, tikus, hewan buas dan
kucing. Beberapa serovar dikaitkan dengan beberapa hewan, misalnya L pomona dan
L interrogans terdapat pada lembu dan babi, L grippotyphosa pada lembu, domba,
kambing, dan tikus, L ballum dan L icterohaemorrhagiae sering dikaitkan dengan
tikus dan L canicola dikaitkan dengan anjing. Beberapa serotipe yang penting
lainnya adalah autumnalis, hebdomidis, dan australis.
D.
Patofisiologis Leptospirosis
Manusia bisa terinfeksi jika terjadi kontak pada kulit atau selaput lendir
yang luka/erosi dengan air, lumpur dan sebagainya yang telah tercemar oleh air
kemih binatang yang terinfeksi leptospira. Leptospira yang masuk melalui kulit
maupun selaput lendir yang luka/erosi akan menyebar ke organ-organ dan jaringan
tubuh melalui darah. Sistem imun tubuh akan merespon sehingga jumlah laptospira akan berkurang, kecuali pada ginjal
yaitu tubulus, dimana akan terbentuk koloni-koloni pada dinding lumen yang mengeluarkan endotoksin
dan kemudian dapat masuk ke dalam kemih.
E.
Cara Penularan Leptospirosis
Leptospira bisa keluar lewat urine/air seni hewan yang jatuh ke tanah. Ini
bisa berpotensi menginfeksi selama 6 – 48 jam. Pada urine yang mempunyai pH
netral atau basa, tidak terkontaminasi dengan deterjen dan suhu di atas 22
derajat C, leptospira dapat hidup sampai berminggu-minggu. Kita dapat
terinfeksi bila terjadi kontak dengan air, tanah dan lumpur yang terkena urine
binatang tersebut.
Leptospira akan masuk ke kulit atau selaput lendir lewat luka atau lecet
pada kulit. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang terkontaminasi
oleh urin hewan terinfeksi leptospirosa. Masa inkubasi dari bakteri ini adalah
selama 4 – 19 hari. Air yang menggenang atau mengalir lambat akan memudahkan
infeksi.
F.
Manifestasi Klinik Leptospirosis
Infeksi leptospirosis mempunyai
manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang asimtomatis (tanpa gejala),
sehingga sering terjadi misdiagnosis. Hampir 15-40% penderita yang terpapar
infeksi tidak mengalami gejala tetapi menunjukkan serologi positif.
Masa inkubasi biasanya terjadi
sekitar 7-12 hari dengan rentang 2-20 hari. Sekitar 90% penderita dengan manifestasi ikterus (penyakit kuning) ringan
sekitar 5-10% dengan ikterus berat yang sering dikenal dengan penyakit Weil.
Perjalanan penyakit leptospira terdiri dari 2 fase yang berbeda, yaitu fase
septisemia dan fase imun. Dalam periode peralihan dari 2 fase tersebut selama
1-3 hari kondisi penderita menunjukkan beberapa perbaikkan.
Manifestasi klinis terdiri dari 2 fase yaitu fase awal dan fase ke-2. Fase
awal tahap ini dikenal sebagai fase septicemic atau fase leptospiremic karena
organisme bakteri dapat diisolasi dari kultur darah, cairan serebrospinal dan
sebagian besar jaringan tubuh. Selama fase awal yang terjadi sekitar 4-7 hari,
penderita mengalami gejala nonspesifik seperti flu dengan beberapa variasinya.
Karakteristik manifestasi klinis yang terjadi adalah demam, menggigil
kedinginan, lemah dan nyeri terutama tulang rusuk, punggung dan perut. Gejala
lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, ruam, sakit
kepala regio frontal, fotofobia, gangguan mental, dan gejala lain dari
meningitis.
Fase ke-2 sering disebut fase imun atau leptospirurik karena sirkulasi
antibodi dapat di deteksi dengan isolasi kuman dari urin dan mungkin tidak
dapat didapatkan lagi pada darah atau cairan serebrospinalis.
Fase ini terjadi karena akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi dan
terjadi pada 0-30 hari atau lebih. Gangguan dapat timbul tergantung manifestasi
pada organ tubuh yang timbul seperti gangguan pada selaput otak, hati, mata
atau ginjal.
Gejala non spesifik seperti demam dan nyeri otot mungkin sedikit lebih
ringan dibandingkan fase awal dan 3 hari sampai beberapa minggu terakhir. Beberapa penderita sekitar 77% mengalami nyeri kepala terus menerus yang tidak
respon dengan pemberian analgesik.
Gejala ini sering dikaitkan dengan gejala awal meningitis. Delirium (tidak
waras, kegilaan) juga didapatkan pada tanda awal meningitis, Pada fase yang
lebih berat didapatkan gangguan mental berkepanjangan termasuk depresi,
kecemasan, psikosis dan dementia.
Gangguan anikterik dapat dijumpai meningitis aseptik adalah sindrom
manifestasi klinis yang paling penting didapatkan pada fase anikterik imun.
Gejala meningeal terjadi pada 50% penderita. Palsi saraf kranial, ensefalitis,
dan perubahan kesadaran jarang didapatkan.
Meningitis bisa terjadi apada beberapa hari awal, tapi biasanya terjadi
pada minggu pertama dan kedua. Kematian jarang terjadi pada kasus anikterik.
Gangguan ikterik : leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam
setelah timbul ikterik. Nyeri perut dengan diare dan konstipasi terjadi sekitar
30%, hepatosplenomegali, mual, muntah dan anoreksia.
Uveitis terjadi pada 2-10% kasus dapat terjadi pada awal atau akhir
penyakit, bahkan dilaporkan dapat terjadi sangat lambat sekitar 1 tahun setelah
gejala awal penyakit timbul. Iridosiklitis and korioretinitis adalah komplikasi
lambat yang akanan menetap selama setahun. Gejala pertama akan timbul saat 3
minggu hingga 1 bulan setelah paparan.
Perdarahan subkonjuntiva adalah komplikasi pada mata yang sering terjadi
pada 92% penderita leptospirosis. Gejala renal seperti azotemia, pyuria,
hematuria, proteinuria dan oliguria sering tampak pada 50% penderita. Kuman leptospira juga dapat timbul di ginjal. Manifestasi paru terjadi pada
20-70% penderita. Adenopati, rash, and nyeri otot juga dapat timbul.
Sindroma klinis tidak khas pada berbagai serotipe, tetapi beberapa
manifestasi sering tampak pada serotipe tertentu. Misalnya ikterus didapatkan
pada 83% penderita dengan infeksi L icterohaemorrhagiae and 30% pada L pomona.
Rash eritematous pretibial sering didaptkan pada infeksi L autumnalis. Gangguan
gastrointestinal pada infeksi dengan L grippotyphosa. Aseptic meningitis
seringkali terjadi pada infeksi L pomona atau L canicola.
Sindrom Weil adalah bentuk leptospirosis berat dengan ditandai ikterus,
disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru, dan diatesis perdarahan.
Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase ke dua, tetapi
keadaan bisa memburuk setiap waktu. Kriteria
keadaan masuk dalam penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik.
Manifestasi paru meliputi batuk, dispnu, nyeri dada, sputum darah, batuk
darah, dan gagal napas. Vaskular dan disfungsi ginjal dikaitkan dengan
timbulnya ikterus setelah 4-9 hari setelah gejala awal penyakit. Penderita
dengan ikterus berat lebih mudah terjadi gagal ginjal, perdarahan dan kolap
kardiovaskular.
Hepatomegali didapatkan pada kuadran kanan atas. Oliguri atau anuri pada
nekrosis tubular akut sering terjadi pada minggu ke dua sehingga terjadi
hipovolemi dan menurunya perfusi ginjal.
Sering juga didapatkan gagal multi-organ, rhabdomyolysis, sindrom gagal
napas, hemolisis, splenomegali, gagal jantung kongestif, miocarditis, dan
pericarditis. Sindrom Weil mengakibatkan 5-10%. Sebagian besar kasus berat
sindrom dengan gangguan hepatorenal dan ikterus mengakibatkan mortalitas
20-40%. Angka mortalitas juga akan meningkat pada usia lanjut usia.
Leptospirosis dapat terjadi makular atau rash makulopapular, nyeri perut
mirip apendisitis akut, pembesaran kelenjar limfoid mirip infeksi
mononucleosis. Juga dapat menimbulkan manifestasi aseptic meningitis,
encephalitis, atau “fever of unknown origin”. Leptospirosis dapat dicurigai
bila didapatkan penderita dengan flulike disease dengan aseptic meningitis atau
disproporsi mialgia berat.
Pemeriksaan fisik yang didapatkan pada penderita berbeda tergantung berat
ringannya penyakit dan waktu dari onset timbulnya gejala. Tampilan klinis
secara umum dengan gejala pada beberapa spektrum mulai dari yang ringan hingga
pada keadaan toksis.
Pada fase awal pemeriksaan fisik yang sering didapatkan adalah demam
seringkali tinggi sekitar 40o C disertai takikardi. Subkonjuntival
suffusion, injeksi faring, splenomegali, hepatomegali, ikterus ringan, mild
jaundice, kelemahan otot, limfadenopati dan manifestasi kulit berbentuk
makular, makulopapular, eritematus, urticari, atau “rash” perdarahan juga
didapatkan pada fase awal penyakit.
Pada fase kedua manifestasi klinis yang ditemukan sesuai organ yang
terganggu. Gejala umum yang didaptkan adalah adenopathy, rash, demam,
perdarahan, tanda hipovolemia atau syok kardiogenik. Pada pemeriksaan fungsi
hati didapatkan ikterus, hepatomegali, tanda koagulopati. Gangguan paru
didapatkan batuk, batuk darah, dispneu, dan distres pernapasan.
Manifestasi neurologi didapatkan palsi saraf kranial, penurunan kesadaran,
delirium atau gangguan mental berkepanjangan seperti depresi, kecemasan,
iritabel, psikosis, dan demensia.
Pemeriksaan mata terdapat perdarahan subconjuntiva, uveitis, tanda
iridosiklitis atau korioretinitis. Gangguan hematologi yang ditemukan adalah
perdarahan, petekie, purpura, ekimosis dan splenomegali. Kelainan jantung
dijumpai tanda dari kongestif gagal jantung atau perikarditis.
G.
Masa Inkubasi
Masa inkubasi (dari terinfeksi sampai munculnya
penyakit) leptospirosis biasanya berlangsung antara 2 hari sampai sekitar 4
minggu. Namun, rata-rata masa inkubasi adalah 10 hari setelah terinfeksi.
Penyakit ini bisa berlangsung selama 3 hari sampai 3 minggu, atau bahkan lebih
lama lagi. Jika tidak diobati, maka penyembuhan penyakit ini akan memakan waktu
berbulan-bulan, bahkan bisa saja berakibat fatal (kematian pada yang mengalami
kerusakan ginjal).
H.
Komplikasi leptospirosis
- Pada hati : kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6
- Pada Ginjal : Gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian.
- Pada Jantung : Berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal
jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak
- Pada paru paru : Batuk darah, nyeri dada, sesak napas. Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernapasan,
saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata ( konjungtiva )
- Pada
kehamilan : Keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati
I.
Pencegahan Leptospirosis
·
Membiasakan
diri dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
·
Menyimpan
makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus
·
Mencuci tangan,
dengan sabun sebelum makan
·
Mencuci tangan,
kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/
sampah/ tanah/ selokan dan tempat-tempat yang tercemar lainnya
·
Melindungi
pekerja yang beresiko tinggi terhadap Leptospirosis ( petugas kebersihan,
petani, petugas pemotong hewan dan lain lain ) dengan menggunakan sepatu bot
dan sarung tangan.
·
Menjaga kebersihan lingkungan
·
Menyediakan dan
menutup rapat tempat sampah
·
Membersihkan
tempat tempat air dan kolam kolam renang.
·
Menghindari
adanya tikus didalam rumah atau gedung.
·
Menghindari pencemaran oleh tikus.
·
Melakukan
desinfeksi terhadap tempat tempat tertentu yang tercemar oleh tikus.
·
Meningkatkan penangkapan tikus .
Pengobatan kasus leptospirosis masih diperdebatkan. Sebagian ahli
mengatakan bahwa pengobatan leptospirosis hanya berguna pada kasus kasus dini
(early stage)atau fase awal
sedangkan pada fase ke dua atau fase imunitas (late phase) yang paling penting adalah perawatan.
1.
mempercepat
pulih ke keadaan normal
2.
mempersingkat
lamanya demam
3.
mempersingkat
lamanya perawatan
4.
mencegah
komplikasi seperti gagal ginjal (leptospiruria)
5.
menurunkan
angka kematian
Obat pilihan adalah Benzyl Penicillin. Selain itu dapat
digunakan Tetracycline, Streptomicyn, Erythromycin, Doxycycline,
Ampicillin atau moxicillin.
Pengobatan dengan Benzyl
Penicillin 6-8 MU iv dosis terbagi selama 5-7 hari. Atau Procain Penicillin 4-5 MU/hari
kemudian dosis diturunkan menjadi setengahnya setelah demam hilang, biasanya
lama pengobatan 5-6 hari.
Jika pasien alergi penicillin
digunakan Tetracycline dengan
dosis awal 500 mg, kemudian 250 mg IV/IM perjam selama 24 jam, kemudian
250-500mg /6jam peroral selama 6 hari. Atau Erythromicyn dengan dosis 250 mg/ 6jam selama 5 hari. Tetracycline dan Erythromycin kurang efektif
dibandingkan dengan Penicillin.
Ceftriaxone dosis 1 g. iv. selama 7 hari hasilnya tidak jauh berbeda dengan pengobatan
menggunakan penicillin.
Oxytetracycline digunakan dengan dosis 1.5 g. peroral, dilanjutkan dengan 0.6 g. tiap 6
jam selama 5 hari; tetapi cara ini menurut beberapa penelitian tidak dapat
mencegah terjadinya komplikasi hati dan ginjal.Pengobatan dengan Penicillin dilaporkan bisa
menyebabkan komplikasi berupa reaksi Jarisch-Herxheimer. Komplikasi ini
biasanya timbul dalam beberapa waktu sampai dengan 3 jam setelah pemberian
penicillin intravena; berupa demam, malaise dan nyeri kepala; pada kasus berat
dapat timbul gangguan pernafasan.
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Asuhan
Keperawatan Pasien Leptospirosis
ü Pengkajian
1.
Identitis
Nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan,
status, alamat, MRS, diagnosa.
2.
Keluhan utama
Demam yang
mendadak, timbul gejala demam yang disertai sakit kepala dan nyeri tekan, mata merah,
keluahan gastrointestinal. Demam disertai mual, muntah, diare, batuk, sakit
dada, penurunan kesadaran dan injeksi konjunctiva. Demam ini berlangsung 1-3
hari.
3.
Riwayat keperawatan
a. Riwayat
penyakit sebelumnya
Belum pernah
menderita serius sehingga perlu opname hanya batuk, pilek dan panas biasa.
b. Riwayat
penyakit sekarang
Mata kuning
sejak 1 minggu yang lalu, Px bisa berjalan, kencing warna seperti teh, BAB
lancar, warna kuning, mual dan muntah, panas dan seluruh badan bintik-bintik
merah (biduran).
c. Riwayat
penyakit keluarga
Tidak ada
riwayat keluarga yang menderita penyakit seperti yang diderita Kx.
4. Pemeriksaan
fisik
Keadaan umum, penurunan kesadaran, lemah, aktvivitas menurun Review of
sistem :
A Sistem pernafasan
Epitaksis,
penumonitis hemoragik di paru, batuk, sakit dada
A Sistem
cardiovaskuler
Perdarahan,
anemia, demam, bradikardia.
A Sistem persyrafan
Penuruanan kesadaran, sakit
kepala terutama dibagian frontal, mata merah, injeksi konjunctiva.
A Sistem perkemihan
Oligoria,
perdarahan adernal.
A Sistem pencernaan
Hepatomegali,
splenomegali, melena
A Sistem muskoloskletal
Kulit dengan ruam berbentuk
makular / urtikaria (biduran) yang teresebar pada badan.
5.
Diagnosa keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi dari perjalanan
penyakitnya (leptospirosis).
2. Nyeri (otot)
berhubungan dengan proses perjalanan penaykitnya.
3. Cemas / takut berhubungan dengan perubahan kesehatan (penyakit
leptospirosisi).
4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya
informasi.
5. Resiko tinggi kurangnya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
penyakitnya defisit imunologik
ü Perencanaan
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dari perjalanan
penyakitnya (leptospirosis).
Tujuan
: Suhu tubuh turun sampai batas normal
Kriteria
hasil :
-
Suhu tubuh dalam batas normal 36 – 37 0
C
-
Klien bebas demam
-
Mukosa mulut basah, mata tidak cekung, istirahat
cukup
Intervensi :
- Bina hubungan baik dengan klien dan keluarga
- Berikan kompres dingin dan ajarkan cara untuk memakai es atau handuk pada
tubuh, khususnya pada aksila atau lipatan paha
- Peningkatan kalori dan beri banyak minuman (cairan)
- Anjurkan memakai baju tipis yang menyerap keringat
- Observasi tanda-tanda vital terutama suhu dan denyut nadi
-
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian
obat-obatan terutama anti piretik, antibiotika
Rasional :
- Dengan hubungan yang baik dapat meningkatkan kerjasama dengan klien
sehingga pengobatan dan perawatan mudah dilaksanakan.
- Pemberian
kompres dingin merangsang penurunan suhu tubuh.
- Air merupakan pangatur suhu
tubuh.
- Baju yang tipis akan mudah
untuk menyerap keringat yang keluar
- Observasi tanda-tanda vital merupakan deteksi dini untuk mengetahui
komplikasi yang terjadi sehingga cepat mengambil tindakan
- obat-obatan terutama antibiotik akan membunuh kuman Salmonella typhi
sehingga mempercepat proses penyembuhan sedangkan antipiretik untuk menurunkan
suhu tubuh.
2.
Cemas / takut berhubungan dengan perubahan
kesehatan (penyakit leptospirosis).
Tujuan :
Rasa cemas klien akan berkurang / hilang
Kriteria
hasil :
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
a.
Tentukan
pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.
b.
Berikan
informasi tentang prognosis secara akurat.
c.
Beri
kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi.
Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
d.
Jelaskan
pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam
pengobatan.
e.
Catat
koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan
dll.
f.
Anjurkan
untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
g.
Berikan
lingkungan yang tenang dan nyaman.
h.
Pertahankan
kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.
|
a. a. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar
untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi.
b. b. Pemberian
informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya.
c. Dapat menurunkan kecemasan klien.
d. Membantu
klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya.
e. Mengetahui
dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam
upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.
f. Agar klien
memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.
g. Memberikan
kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.
h. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar
ditolong.
|
3. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan
jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, syaraf, inflamasi),
ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu
memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
Tujuan :
- Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui
aktivitas
- Melaporkan nyeri yang
dialaminya
- Mengikuti program
pengobatan
- Mendemontrasikan tehnik
relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang
mungkin
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
a. Tentukan
riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
b. Evaluasi
therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan
keluarga tentang cara menghadapinya
c. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti
mendengarkan musik atau nonton TV (distraksi)
d. Menganjurkan
tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira,
dan berikan sentuhan therapeutik.
e. e. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.
f. Diskusikan
penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien
g.
Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll
|
a. a. Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan.
b. b. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah
menyebabkan komplikasi.
c. Untuk
meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.
d. Meningkatkan
kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas.
e. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri,
tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk
mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.
f. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
g. Untuk mengatasi nyeri.
|
4.
Pemenuhan nutrisi (kurang
dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan intake kurang ditandai dengan klien
mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera,
nausea dan vomitng, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan
massa otot dan lemak subkutan,
Tujuan :
- Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal
dan tidak ada tanda malnutrisi
- Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang
adekuat
- Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan
dengan penyakitnya
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
a.
Monitor
intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.
b.
Timbang
dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan.
c. Kaji
pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.
d. Anjurkan
klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang
adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
e. Kontrol
faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang
terlalu manis, berlemak dan pedas.
f. Ciptakan
suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.
g. Anjurkan tehnik relaksasi,
visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
h. Anjurkan
komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.
i. Kolaboratif, Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan
albumin
j. Berikan pengobatan sesuai indikasi Phenotiazine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamin khususnya A, D, E dan B6, antacida
k. Pasang
pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan
infus.
|
a. Memberikan informasi tentang status gizi klien.
b. Memberikan
informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.
c.
Menunjukkan keadaan gizi
klien sangat buruk.
d.
Kalori merupakan sumber
energi.
e. Mencegah
mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu
makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas.
f. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.
g. Untuk menimbulkan perasaan ingin makan / membangkitkan selera makan.
h. Agar dapat
diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).
i. Untuk
mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan
penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien.
j. Membantu menghilangkan
gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien.
k. Mempermudah intake makanan
dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.
|
5. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif
ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi,
tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.
Tujuan :
- Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan
pada ting-katan siap.
- Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan
mengikuti prosedur tersebut.
- Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi
dalam pengo- batan.
-
Bekerjasama
dengan pemberi informasi.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
a. a. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan
akibatnya.
b. Tentukan
persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang
pengalaman klien lain yang menderita kanker.
c. Beri
informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik,
hindarkan informasi yang tidak diperlukan.
d. Berikan
bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan,
therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien.
e. Anjurkan
klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang
penyakitnya.
f. Review
klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal.
g. Anjurkan
klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya
eritema, ulcerasi.
h. Anjurkan
klien memelihara kebersihan kulit dan rambut.
|
a. Menghindari
adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien.
b. Memungkinkan
dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta kesalahan
pengertian.
c. Membantu
klien dalam memahami proses penyakit.
d. Membantu
klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan.
e. Mengetahui sampai sejauhmana
pemahaman klien dan keluarga mengenai penyakit klien.
f. Meningkatkan
pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat.
g. Mengkaji
perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah
dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman.
h. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.
|
6. Resiko tinggi kurangnya volume cairan
berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik,
kurangnya intake
Tujuan :
Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran
mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output
normal.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
a. Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal
seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.
b. Timbang berat badan jika diperlukan.
c. Monitor
vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.
d. Kaji
turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien.
e. Anjurkan
intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.
f. Observasi kemungkinan
perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis
dan pethekie.
g. Hindarkan
trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah.
h. Kolaboratif
i. Berikan cairan IV bila diperlukan.
j. Berikan therapy antiemetik.
k. Monitor
hasil laboratorium : Hb, elektrolit, albumin
|
a. Pemasukan oral yang tidak
adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.
b. Dengan
memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan.
c. Tanda-tanda
hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu
tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi.
d. Dengan
mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia
e. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
f. Segera
diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.
g. Mencegah terjadinya perdarahan.
h. Kolaborasi :
i.
Memenuhi kebutuhan cairan
yang kurang.
- j. Mencegah/menghilangkan mual muntah.
- k. Mengetahui
perubahan yang terjadi.
|
7.
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek kerja
penyakitnya deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.
Tujuan :
- Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi
spesifik
-
Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi
dan percepatan penyembuhan
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
a. Monitor
perkembangan kerusakan integritas kulit untuk melihat adanya efek
kerusakan kulit,
b. Anjurkan
klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
c. Ubah posisi klien secara teratur.
d. Berikan
advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak
tanpa rekomendasi dokter.
|
a. Memberikan
informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal
terhadap perubahan integritas kulit.
b. Menghindari
perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.
c. Menghindari
penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.
d. Mencegah
trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif
|
ü Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan
merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama
melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien
ü Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut
pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan
pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini
merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya
BAB
IV
PENUTUP
A.
Simpulan
B. Saran
Ø Pada orang berisiko tinggi terutama yang bepergian ke daerah berawa-rawa
dianjurkan untuk menggunakan profilaksis dengan doxycycline.
Ø Masyarakat terutama di daerah persawahan, atau pada saat banjir mungkin ada
baiknya diberi doxycycline untuk
pencegahan.
Ø Para klinisi diharapkan memberikan perhatian pada leptospirosis ini
terutama di daerah-daerah yang sering mengalami banjir.
Ø Penerangan tentang penyakit leptospirosis sehingga masyarakat dapat segera
menghubungi sarana kesehatan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar